…
Bagi kesempatan
manusia melakar impian
namun, masa tidak selalu mengungkap harapan
fitrah kehidupan
memang tiada yang berkekalan
juga tidak semua bisa jadi kenyataan
yang datang pasti pergi
yang tiba pasti kembali
citra yang tidak perlu ditangisi
tetapi acara yang patut direnungi
Kehidupan yang hanya sekali
tetapi di dalam masa yang tidak kembali
tetap ada waktu taubat mu berkali-kali
Namun bila kesempatan tidak bertemu
Pasti saat itu diri hanya mampu meratap bisu
1431 : 2010 : 25
















Itulah warna kehidupan. Terlebih atau terkurang, terlaksana impian atau hanya bayangan, adalah keindahan yang hanya mampu kita lihat jika bersandar pada Allah.
Hidup ibarat satu kanvas yang tercalit segala warna abstrak. Buruk atau indah adalah penilaian diri yang pasti berbeza antara individu.
suara said this on December 29, 2009 at 1:34 pm
assalamu’alaikum kak fad yang semakin dirindu,
semakin sayu tika mengunjungi laman akak ni, membaca sajak ini diiringi dengan zikir yang syahdu.
alhamdulillah, saya sudah di sabah, malaysia. teringin nak bersembang.
kehidupan yang hanya sekali inilah membuatkan saya berfikir betapa ianya sebuah hadiah yang sangat berharga dari Tuhan. walaupun kehidupan seperti yang dikatakan oleh-Nya hanya senda gurau belaka, kita tetap diberikan nikmat yang berharga – salah satunya kita dapat merasai cinta, dengan cinta inilah yang membawa kita kepada-Nya nanti.
dan semakin mahu menghargai setiap detik dalam hidup ini kan? moga Allah sentiasa menyayangi kak fad.
salam sayang dan rindu…
Wardatul Shaukah said this on January 6, 2010 at 1:24 pm
Apa yang lebih indah
dari harumnya mawar berembun
yang tumbuh di tepi danau,
ketika dinginnya pagi beranjak dengan sopan
saat semburat tipis mentari mengintip di cakrawala?
Waktu purnama semalam permisi untuk pergi,
meninggalkan senyum tipisnya yang cantik dalam hatimu?
Yaitu saat engkau tahu
di balik semua keindahan pagi itu,
ada bahagia dari seorang sahabat
yang sedang tersenyum mengingatmu.
Ia antarkan harimu itu dengan lantunan doa indah
yang menghubungkan engkau, dia,
dan Tuhanmu,
dalam satu tali cahaya yang menyala.
Kemudian ia biarkan doa itu terbang berarak dengan riang ke langit.
Maka purnama, embun, mawar, danau, dingin, dan semburat mentari
saat itu berbicara bersama:
Hari ini engkau akan tersenyum,
sebagaimana Tuhan tersenyum pada engkau dan dia, saat itu.
Herry Mardian, 7 Mei 2006,
http://suluk.blogsome.com/2006/05/07/doa-untuk-sahabat/#more-98
Nur said this on January 22, 2010 at 9:31 am